Senin , 20 September 2021 ~ 06:38 GMT+0700
Beranda / Figur Tokoh / Menanti Suksesi Ketum PDIP, Hendrawan: Megawati Yang Putuskan
Foto: Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Seokarnoputri peluncuran buku secara virtual berjudul “Merawat Pertiwi, Jalan Megawati Soekarnoputri Melestarikan Alam”. Yang di laksanakan DPP PDIP. Rabu (24/03/)

Menanti Suksesi Ketum PDIP, Hendrawan: Megawati Yang Putuskan

Redaksi | Rabu, 14 April 2021.

JAKARTA, Figurindonesia.com –Pernyataan Ketua Umum PDIP Megawati Seokarnoputri legowo jika kelak tak lagi pimpin PDIP disampaikan Live Secara Virtual Pada saat peluncuran buku berjudul “Merawat Pertiwi, Jalan Megawati Soekarnoputri Melestarikan Alam”. Yang di laksanakan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang di gelar pada Rabu silam (24/03/2021).

Disampaikan pada saat peluncuran buku berjudul “Merawat Pertiwi, Jalan Megawati Soekarnoputri Melestarikan Alam”. Yang di laksanakan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang di gelar pada Rabu silam (24/03/2021) secara virtual.

Megawati Seokarnoputri Menyatakan Legowo Jika Kelak Tak Lagi Pimpin PDIP, menyebutkan tidak akan keberatan jika kelak ada yang menggantikannya sebagai ketua umum PDIP. Namun, dirinya ingin PDIP tetap eksis sebagai partai harapan masyarakat di Tanah Air.

“Ada pertanyaan kalau suatu saat ibu harus digantikan? Ya Monggo wae. Tapi PDIP-nya awas lho. Sepanjang ada republik ini PDIP harus tetap ada sebagai salah satu partai andalan di republik ini,” katanya, saat berpidato di acara peluncuran buku berjudul Merawat Pertiwi secara virtual, Rabu (24/3).

PDIP Selepas Megawati: Puan atau Prananda?

Kursi Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dinilai kemungkinan besar akan kembali jatuh ke tangan keluarga Sukarno jika Megawati Soekarnoputri menyatakan berhenti.

Meskipun sejumlah kader lain punya keunggulan elektoral, kecenderungan primordialisme diprediksi bakal melanggengkan dominasi ‘darah biru’ di partai ‘Banteng’.

Isu regenerasi di tubuh PDIP sudah menyeruak akhir 2019. Kala itu, Megawati disebut-sebut akan meninggalkan jabatan yang ia emban sejak Orde Baru tersebut.

Dua nama pewaris Trah Sukarno, yakni Puan Maharani dan Prananda Prabowo, digadang-gadang bakal menjadi nakhoda baru.

Puan diunggulkan karena pengalaman di parlemen dan pemerintahan. Ia baru saja memenangkan Pemilu 2019 dengan perolehan suara terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Sementara itu, Prananda disebut sebagai sosok yang diklaim lebih lihai dari Puan dalam hal konsolidasi internal.

Saat kongres digelar, Megawati kembali jadi Ketua Umum PDIP. Puan dan Prananda dipercaya menempati kursi di Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

Dua tahun berjalan, isu itu kembali berembus. Megawati mengklaim tak risau jika suatu saat diganti oleh kader lain.

“Ada pertanyaan kalau suatu saat ibu harus digantikan? Ya Monggo wae. Tapi PDIP-nya awas lho. Sepanjang ada republik ini PDIP harus tetap ada sebagai salah satu partai andalan di republik ini,” katanya, saat berpidato di acara peluncuran buku berjudul Merawat Pertiwi secara virtual, Rabu (24/3).

Puan vs Prananda, Akant Menimbulkan Faksi dan Soliditas PDIP?

Foto; Puan Maharani dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Pembicaraan terkait calon Ketua Umum PDIP pengganti Megawati Soekarnoputri semakin memanas di tubuh PDIP. Dua nama yang santer diisukan, yakni Puan Maharani dan Prananda Prabowo, pun disebut berpotensi menimbulkan faksionalisme di lingkup internal partai.

Bahkan konflik keluarga berpotensi mengintai soliditas PDIP ke depannya terkait dua nama sejauh ini. Pakar politik Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, mengungkap, jika potensi tersebut tidak diantisipasi, soliditas PDIP bisa terdampak.

“Hal ini menunjukkan besarnya potensi faksionalisme dan konflik keluarga di dalam kekuatan inti PDIP. Jika tidak diantisipasi, faksionalisme antara kekuatan Puan dan Prananda bisa mengintai soliditas PDIP ke depan,”

Megawati sebagai pimpinan PDIP saat ini dinilai sebagai satu-satunya yang bisa menjembatani regenerasi kepemimpinan tersebut. Umam menilai regenerasi ini memang sudah seharusnya mulai dibicarakan oleh PDIP.

“Terkait dengan itu, memang sudah saatnya PDIP melakukan regenerasi kepemimpinan. Megawati yang menjadi patron politik partai ini harus bisa menjembatani proses transisi ini menjadi lebih stabil dan tidak berimbas pada menguatnya faksionalisme dan konflik di internal keluarga trah Sukarno,” ucapnya.

Megawati sebagai sosok ibu dari Puan dan Prananda pun dinilai krusial menjamin stabilitas di lingkup internal PDIP. Namun Umam mengingatkan proses peredaman itu terancam jika satu di antara keduanya memiliki ego yang tinggi.

“Sebagai ibu bagi kedua kakak beradik itu, sekaligus patron politik PDIP, arah kebijakan Megawati tentunya akan diarahkan untuk menjamin stabilitas politik di internal partainya. Namun perlu diingat, proses peredaman itu belum tentu berhasil jika ada salah satu pihak yang tercongkel egonya. Pertentangan antar-ego inilah yang perlu diantisipasi awal dari konflik dan faksionalisme di internal PDIP kedepan.”

Rekam Jejak Prananda Prabowo

Foto: Prananda Prabowo, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani.

Nama Prananda Prabowo jadi sorotan setelah isu Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri akan berhenti dari jabatan Ketua Umum.

Prananda Prabowo merupakan putra kedua Megawati Soekarnoputri Namun berbeda dengan Puan yang kini lebih banyak tersorot karena banyak tampil depan publik, kini  menjabat Ketua DPR dan sebelumnya pernah menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Prananda justru lebih sering bergerak senyap di belakang layar.

Prananda merupakan anak kedua Megawati Soekarnoputri, buah hati pernikahan pertamanya dengan pilot pesawat tempur AURI, Lettu Surindro Supjarso. Surindro, wafat dalam misi penerbangan di Biak, Papua, saat Megawati tengah mengandung Prananda pada awal 1971 silam.

Dalam buku biografi Megawati bertajuk Satyam Eva Jayate, Prananda yang karib disapa Nanan itu lahir di Jakarta tanpa sempat mengenal ayahnya.

Prananda diperkenalkan langsung oleh Megawati di dunia politik pada 2010 silam dalam Kongres PDIP di Bali. Prananda tak lantas mendapat jabatan prestise sebagai pengurus partai. Dia bahkan mendapat jabatan yang malah jarang disorot media.

Selain itu, dia juga tak ‘genit’ dengan banyak berbicara di depan publik. Jabatan Prananda di PDI Perjuangan kala itu adalah Kepala Ruang Pengendali dan Analisis Situasi (Situation Room) DPP PDI-Perjuangan.

Prananda juga diketahui sering terlibat dalam penyusunan pidato politik Megawati. Namun, terkait itu, dia pernah merendah bahwa pidato-pidato itu disusun berdasarkan arahan Megawati yang ingin dicarikan kutipan dari kakeknya, Bung Karno.

Saat ini, dia dipercaya menjadi Ketua Bidang Ekonomi Kreatif Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP PDIP) Periode 2019-2024.

Tanggapan Dari Para Kader PDIP, Maupun Pengamat.

Primordialisme Kuat

Peneliti LIPI Wasisto Raharjo Jati menilai jabatan Ketum PDIP tetap akan jadi milik keturunan Sukarno. Dia menyebut trah Sukarno merupakan perekat internal partai.

“Saya lihat kultur permisifnya tinggi. Artinya, kader yang bukan dari darah biru, bukan Trah Sukarno, agak segan bicara kekuasaan,” ucap Wasisto.

Senada, Asrinaldi menyatakan keberadaan keluarga Sukarno selama ini jadi salah satu daya tarik elektoral PDIP. Dia memprediksi pengganti Megawati berasal dari keluarganya sendiri.

“Bayangkan kalau PDIP tidak lagi dari Trah Sukarno, saya pikir akan lari suara karena primordialisme di parpol kita masih kuat,” tandas dia.

Peneliti dari Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menilai bursa ketua umum PDIP pengganti Megawati masih akan dipenuhi nama-nama dari trah Sukarno yang masih dikultuskan.

Peneliti dari Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menilai bursa ketua umum PDIP pengganti Megawati masih akan dipenuhi nama-nama dari trah Sukarno yang masih dikultuskan.

Nama pertama ialah Prananda. Wasisto berpendapat akan ada guncangan di internal PDIP usai ditinggal Megawati. Menurutnya, kemampuan Prananda merangkul internal jadi poin plus.

“Setelah PDIP ditinggal Bu Mega, partai sedikit akan mengalami fluktuasi, artinya partai ini butuh semacam sosok yang itu dekat dengan Bu Mega, dalam hal ini Prananda,” kata Wasisto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (12/4).

Wasisto menyebut memang Prananda punya kelemahan karena tak aktif di luar partai. Akan tetapi, dia menilai sosok Prananda paling dibutuhkan jika PDIP ingin mengunci soliditas partai.

Nama lainnya adalah Puan Maharani. Puan disebut berpotensi karena pengalamannya di eksekutif dan legislatif. Dia pernah memegang jabatan setingkat menteri koordinator dan sekarang Ketua DPR RI Periode 2019-2024.

Ini Pernyataan Lantang Ketua DPC PDIP Solo, FIX Hadi Rudyatmo

Foto: Ketua DPC PDIP Solo, FIX Hadi Rudyatmo.

Pernyataan lantang datang dari Ketua DPC PDIP Solo, FIX Hadi Rudyatmo menyebut Prananda Prabowo adalah sosok yang layak menggantikan Megawati. Lantas, apakah Prananda benar-benar lebih baik dibanding adiknya,Puan Maharani, yang kini duduk di kursi strategis sebagai Ketua DPR RI setelah menjabat Menko PMK?

“Selama ini yang kita tahu, yang diberi posisi di depan itu kan Puan Maharani ya kan, jadi memang Prananda lebih berperan sebagai orang di belakang layar,” kata Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI), Djayadi Hanan, saat berbincang dengan detikcom, Senin (12/4/2021).

Politis PDIP, Hendrawan: Suksesi Ketum PDIP, Megawati Yang Putuskan

Foto: Politisi PDIP Prof. Dr. Hendrawan Supratikno Anggota DPR RI Komisi VI Pada Periode 2009-2014.

Politikus PDIP Hendrawan Supratikno menegaskan bahwa keputusan terkait suksesi pucuk pimpinan partainya akan diputuskan oleh Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum saat ini.

Hal itu ia sampaikan untuk merespons dukungan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Solo, FX Hadi Rudyatmo bagi Prananda Prabowo sebagai pengganti Megawati dalam jabatan ketua umum PDIP.

“Pada waktunya Bu Ketum [Megawati] yang akan memutuskan,” kata Hendrawan kepada CNNIndonesia.com lewat keterangan tertulis, Senin (12/4).

Hendrawan menjelaskan bahwa suksesi kepemimpinan PDIP sudah diatur dengan jelas dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Aturan itu, kata dia, tak membutuhkan mekanisme saling dukung mendukung untuk meraih kursi Ketum.

“tidak diperlukan dukung-dukungan. Semua sudah diatur dengan jelas dan mudah dipahami,” ungkapnya.

Melihat hal itu, Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDIP itu mengimbau agar semua pihak tak perlu membuat ‘pemanasan politik’ terkait suksesi Ketua Umum berikutnya.

Ia pun menilai kader-kader PDIP tak perlu membicarakan sesuatu yang bukan menjadi kewenangannya.

“Membicarakan yang belum saatnya dibicarakan dan yang bukan menjadi kewenangannya, hanya menghabiskan energi batin,” kata dia.

Share:

Baca Juga

Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Terbukti Langgar Etik Berat

Redaksi | Senin, 30 Agustus 2021. JAKARTA, Figurindonesia.com – Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 − eight =