Senin , 20 September 2021 ~ 06:42 GMT+0700
Beranda / Figur Politik / Peserta KLB Demokrat Ungkap Keanehan, Moeldoko Terpilih Tidak Mengikuti Tata Cara Pemilihan Yang Lazimnya Terjadi Dalam Kongres
Foto: Gerald Piter salah satu peserta KLB Demokrat Deli Serdang, Sumatra Utara.

Peserta KLB Demokrat Ungkap Keanehan, Moeldoko Terpilih Tidak Mengikuti Tata Cara Pemilihan Yang Lazimnya Terjadi Dalam Kongres

Redaksi | Kamis, 11 Maret 2021.

JAKARTA, Figurindonesia.com – Kesaksian Gerald Piter salah satu peserta KLB Demokrat Deli Serdang yang disebut kubu AHY ilegal, Gerald Piter Runtuthomas menjelaskan keanehan hukum dalam KLB tersebut. Gerald sendiri dibujuk untuk datang ke Sumatera Utara dengan iming-iming uang meski dalam posisinya sebagai Wakil Ketua DPC Kotamobagu, Sulawesi Utara, tidak punya hak suara dalam Kongres.

“Saya melihat banyak orang yang tidak saya kenal dalam pelaksanaan KLB ilegal, padahal banyak ketua DPC Partai Demokrat daerah-daerah lain yang saya kenal,” kata Gerald.

Selain itu, dia heran melihat mekanisme penunjukan Moeldoko sebagai ketua umum yang tergesa-gesa, tidak mengikuti tata cara pemilihan yang lazimnya terjadi dalam Kongres. Yang paling mencolok adalah soal status keanggotaan Moeldoko.

“Masa memilih seseorang yang bukan kader partai sebagai ketua umum? Kata Jhoni Allen Marbun, KTA Pak Moeldoko khusus. Akan tetapi, pertanyaan saya siapa yang tanda tangan KTA tersebut? KTA kan harusnya ditandatangani ketua umum,” kata Gerald.

Karena keanehan-keanehan itu, Gerald meyakini kegiatan di Deli Serdang tersebut pasti ilegal, mulai dari pelaksanaannya hingga tata laksana penyelenggaraannya.

Sebelumnya, Gerald mengakui kedatangan dirinya ke Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang lantaran diming-imingin uang Rp 100 juta. Gerald bilang, kala itu dia dihubungi oleh seorang bernama Vecky Gandey untuk bisa memilih Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko menjadi Ketua Umum Partai Demokrat lewat KLB.

“Karena diiming-imingi uang Rp 100 juta. Kalau sudah tiba di lokasi 25 persen dari Rp 100 juta yaitu Rp 25 juta. Selesai KLB akan mendapatkan sisanya yaitu Rp 75 juta,” ujar Gerald di kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Senin (8/3).

Gerald mengatakan iming-iming uang Rp 100 juta tersebut ternyata tidak benar adanya. Dirinya hanya mendapatkan Rp 5 juta. Dia mengaku sangat kecewa karena uang Rp 100 juta nyatanya tidak ada. Setelah itu Gerald bersama dengan kader-kader Partai Demokrat protes lantaran hanya mendapatkan uang Rp 5 juta. Setelah itu barulah mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin memberikan uang Rp 5 juta lagi, sehingga total 10 juta yang dia dapatkan.

Gerald mengaku dirinya datang ke KLB tersebut juga dengan alasan bahwa Ketua DPC tidak bisa menghadiri hajatan tersebut. Padahal sesuai dengan peraturan AD/ART, seorang Wakil Ketua DPC tidak memiliki hak untuk memberikan suara di KLB.

Share:

Baca Juga

Pengamat, Hijrah Wicaksana sebut PDI Perjuangan Calonkan Puan Maharani di Pilpres 2024

Redaksi | Senin 7 Juni 2021. “Harits Hijrah Wicaksana yakin Puan Maharani itu dipastikan maju …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three + sixteen =